Monday, October 20, 2008

Bitter Sweet



"Tapi lo berhak buat bahagia, Key" Ucap Rara.
"Gw gak bisa Ra, gw gak bisa jika gw harus bahagia di atas penderitaan orang lain. Apalagi itu teman gw, sahabat gw. Gak bisa Ra, gak boleh kayak gitu" Keysha sedikit berteriak ketika mengatakan hal itu.
"Gw tahu itu Key, gw tahu. Dan itu gak akan bisa diganggu gugat, tapi Key.."
"Seperti yang lo bilang Ra, gak bisa diganggu gugat"
"Tapi Key, lo berhak, lo berhak tuk memperjuangkan cinta lo. Lo sendiri pernah bilang itu"
"Gak bisa Ra.. Gak bisa.. Ini beda.. Ini Inka Ra, Inka.." Keysha mulai mengeluarkan air matanya.
"Ya sudah, kita bahas lagi nanti ya.. Sudah" Rara menyudahi pembicaraan itu sambil merangkul Keysha yang mulai menangis.
--**--
"Ass.. Aku sekarang ada di Jakarta. Ada hal yang ingin kubicarakan. Bisa ketemu di Chocolate Café besok jam 3 sore?" Begitu tulisan yang tertera di HP Keysha dari nomor yang tak dikenalnya.
Hatinya bertanya-tanya, mencoba mencari jawaban. Chocolate Café, hanya orang-orang tertentu yang tahu dan pernah pergi bersama dirinya kesana. Tebakannya mengarah pada Raka, tapi hatinya terus saja menolak.
--**--
"Mana coba nomornya, siapa tahu gw kenal?" Rara meraih HP Keysha, setelah dirinya menceritakan perihal sms tak bernama itu.
"Ah, paling juga sms nyasar"
"Yee, dicoba dulu dong.. siapa tahu aja lo kenal. Sms balik aja, tanya namanya" Rara yang memang penasaran menyarankan untuk membalas sms itu, setelah di HP nya pun tak tertera nomor pengirim tersebut.
"Perasaan gw bilang sih, itu Raka. Tapi gw gak yakin, gw takut buat berharap"
"Siapa tahu aja itu benar-benar dia. Makanya dicoba donk, gak ada salahnya kan buat nyoba. Or gw telpon aja. Gimana?"
"Ah, ga ah.. Ngapain sih pake di telpon. Iya, iya.. gw sms balik nih"
"Wass.. Maaf, ini siapa ya?. Puas, dah gw sent nich" Akhirnya Keysha menuruti bujukan Rara untuk membalas nomor misterius itu. Namun tiba-tiba saja Keysha diam tak bergeming dengan wajah yang berubah menjadi sedikit pucat. Rara yang melihat perubahan pada Keysha meraih HP itu dan membacanya. "Ini Raka Key. Sorry, aku lupa kasih tahu, ini nomor baru aku"
"Gw gak percaya kalo itu bener dia, emang gw sempet berpikir itu dia, tapi Ra. Kenapa dia mesti datang lagi sih, gw benci kalo dia datang lagi, gw takut Ra, takut."
--**--
"Kau masih ingat tempat ini? Kau ingat, kejadian lucu yang kita lakukan disini, hehehe .. benar-benar konyol ya? Aku masih ingat ketika dengan bodohnya kita menirukan sepasang kekasih yang sedang bertengkar dan tanpa disengaja mereka melihat hal itu .. lalu dengan kompaknya, mereka memelototi kita. Hehehe .. lucu ya? Apa kabar ya mereka, apa masih jadi sepasang kekasih or malah putus saat itu juga"
"Iya, aku ingat ... Jadi, apa yang membuatmu datang ke Jakarta dan mengajak ku bertemu disini?" Keysha sudah benar-benar tak sabar dan ingin segera pergi dari tempat itu. Baginya dengan bersama Raka disana, membuatnya kembali ke masa lalu. Masa dimana dirinya sudah mulai bisa melupakannya. Kalau saja Rara tak bersikeras menyuruhnya datang, mungkin ia tak akan pernah datang lagi ke tempat ini, tempat yang sudah lama tak pernah didatanginya.
"Hehehe, kau tak berubah ya, masih sama seperti yang dulu .. Masih bekerja di perusahaan otomotif itu?"
"Iya, masih kok"
"Wah, hebat ya .. bisa bertahan sampai saat ini, gak ada keinginan untuk pindah? Kalau aku mah sudah melanglang buana kemana-mana, hehehe"
Iya, kau memang sudah pergi jauh kemana-mana, pergi jauh meninggalkan semua. Keysha mulai bergerutu di dalam hatinya. "Ya ... gitu deh, lingkungan disana yang membuatku bertahan, suasana kekeluargaan yang sudah terjalin lama"
"Iya, suasana kerja yang seperti itu yang bisa membuat kita bertahan lama di suatu tempat kerja. Walau mungkin gaji kecil, namun suasananya asyik, yaaa .. kitanya juga asyik-asyik aja .. iya kan?"
Keysha hanya mengangguk untuk memberi isyarat bahwa ia menyetujui perkataan Raka.
"Maaf, mau pesan apa?" Seorang pelayan datang menghampiri dan memberikan menu pada mereka.
"mmm.. saya vanilla latte mbak. Kamu cappucinno dan cake tirramissu kan? Hehehe, aku masih ingat makanan favoritmu"
"Iya mbak, seperti yang mas itu bilang" Keysha mengiyakan pesanan Raka dengan senyum yang sedikit dipaksakan. "Eh, Aku ke kamar mandi dulu ya Ka"
"Oh, iya .. silahkan"
Saat ini keysha benar-benar bingung dengan maksud Raka yang sebenarnya. Mengajaknya bertemu ditempat ini. Ditambah dengan cerita dan tingkah lakunya yang membuatnya benar-benar ingin segera meninggalkan Raka disini. Cukup lama Keysha didalam kamar mandi, sengaja dia melakukan hal itu, karena memang dirinya ingin meminimalisir waktu pertemuannya dengan Raka.
"Minumannya sudah datang, ternyata vanilla lattenya masih sama seperti yang dulu" Kembali Keysha hanya memperlihatkan sedikit senyuman yang dipaksakan muncul dari wajahnya. Dan mungkin Raka sadar akan hal itu, sampai akhirnya ia berterus terang mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Keysha ke tempat itu. Tempat yang baginya sangat memiliki banyak kenangan.
"Key, sebenarnya .. ada hal yang ingin kusampaikan padamu" Keysha sedikit takut ketika Raka mulai ingin menyampaikan maksudnya. "Tapi aku tak tahu harus memulainya darimana" Raka sedikit gugup dan nampak ragu-ragu untuk memulai mengutarakan maksudnya. "Tapi aku sadar Key, aku harus mengatakan hal ini .. hal yang sesungguhnya telah lama ku simpan dan kupendam dalam hatiku" Keysha sudah benar-benar takut untuk mendengar kelanjutannya, sedangkan Raka sudah yakin dan siap untuk menyampaikannya.
"Key, kau ingat ... kurang lebih 2 tahun yang lalu, di tempat ini kita pertama kali bertemu .. Aku masih ingat apa yang kau kenakan saat itu ... Kaos berwarna pink dengan jilbab putih dan bros bunga .. Kau percaya pada cinta pada pandangan pertama? Hmm, dulu aku tak percaya, tapi setelah aku bertemu denganmu saat itu, aku merasakannya .. Aku mencoba untuk menolaknya, mencoba menghindari kenyataan yang ada .. menolak dan tak yakin pada perasaanku saat itu padamu. Takut akan respon darimu. Dan ketika seseorang hadir, aku mulai bimbang akan perasaanku. Dia yang hadir dengan segala perhatiannya, kau ingat, saat itu ayahku baru saja meninggal dunia. Aku tahu tak seharusnya aku mencari pembenaran dari hal itu. Aku mulai beralih padanya dan mencoba menolak akan perasaanku padamu, takut untuk memperjuangkan apa yang ada dihatiku. Kau tahu? Bimbang .. itu yang kurasa." Raka berhenti sejenak untuk menghela nafasnya dan kemudian kembali melanjutkan penjelasannya. Baginya dibutuhkan keberanian yang banyak untuk menyampaikan maksudnya. "Akhirnya aku memilih dia, keputusan yang aku sesali kemudian. Ku coba menjalani hubungan dengannya, tapi aku tetap saja tak bisa melupakanmu, aku tak tahu mengapa, awalnya aku masih menolak perasaanku. Namun, lama kelamaan aku sudah tak sanggup lagi berpura-pura padanya, bersandiwara atas nama cinta. Mungkin memang sikapku yang nampak seperti kabur dari kenyataan bisa dikatakan tidak dewasa. Tapi aku benar-benar bimbang dan ragu akan perasaanku. Ketika kurasa aku tak sanggup lagi menahan semuanya, aku pergi .. pergi dari semuanya. Aku butuh waktu, waktu dimana aku bisa berpikir, mencari jawaban yang selama ini kucari.. Dan dalam masa pencarian itu .. aku banyak belajar, bahwa cinta bukan hanya sebatas pada pandangan pertama atau sebatas perhatian semata. Cinta benar-benar apa yang jujur dirasakan oleh hati kita. Dan jujur, dari dalam lubuk hatiku, aku mencintaimu .. aku tahu, sangat lama waktu yang kubutuhkan tuk menyadari hal ini, dan aku tahu, kalau selama ini aku bodoh dengan tidak berusaha memperjuangkan cintaku. Tapi saat ini itu yang kurasakan, dan aku benar-benar yakin akan hal itu"
Keysha terdiam dan benar-benar kaget mendengar penuturan Raka, ia sangat senang mendengar hal itu, ternyata selama ini perasaannya pada Raka tak bertepuk sebelah tangan. Sampai akhirnya ia sadar dan ingat pada Inka. Perasaannya menjadi campur aduk.
"Key, aku ingin mencoba mengulang kisah kita yang lalu .. kisah yang selama ini sangat aku impikan .. kisah yang seharusnya dari dulu bisa kujalani .. denganmu, bersamamu .. Kau mau kan Key, mengulang kisah itu .. menjalani lembaran kisah dari awal lagi .. bersamaku?"
Keysha masih saja terdiam, dia benar-benar tak tahu harus apa saat ini. Pikirannya menerawang jauh entah kemana.
"Key? Aku tahu ini semua terkesan mendadak, dan kau pasti kaget mendengarnya .. tapi aku benar-benar sudah tak bisa lagi menyimpannya .. perasaan ini benar-benar harus kukatakan padamu"
Oh Tuhan, mengapa harus seperti ini, mengapa aku harus berada dalam situasi yang membingungkan ini. Aku bimbang dengan apa yang kurasakan sekarang. Ada gemuruh dalam hati Keysha ketika mendengarkan penjelasan Raka. Matanya tak berani menatap Raka, posisinya sedikit limbung. Baginya apa yang dikatakan Raka seperti dongeng dan dia berperan sebagai putri disana, namun tak jelas akhir ceritanya.
"Maaf .. Aku tak bisa .." Namun tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut Keysha, karena itu yang terlintas dipikirannya.
"Tapi Key, .. kenapa?"
"Inka .. "
"Aku akan menjelaskan semua padanya, dari awal hingga akhir .. dan ku tahu, ia pasti akan memahaminya"
"Sekali lagi maaf .. aku tak bisa"
"Setiap orang berhak untuk bahagia, begitu juga dengan kau dan aku"
"Tapi aku tak bisa bahagia diatas penderitaan orang lain Ka, tidak di atas penderitaan Inka.."
"Tapi Key, aku cinta kamu .. dan ku tahu kau pun merasakan hal yang sama"
"Apa pernah kau memikirkan perasaanku saat itu? Kau egois Ka, dengan hanya memikirkan perasaanmu sendiri dan kenapa juga kau harus datang sekarang Ka, kenapa sekarang? kenapa disaat aku sudah mulai bisa melupakanmu, menata hatiku dan mencoba menjalani hidup dengan benar .. apa kau benar-benar tau apa saja yang sudah kulalui sampai dengan saat ini untuk bisa melupakanmu dari dalam hatiku" Perasaan Keysha sudah hampir meledak ketika mengatakan hal itu.
"Maafkan aku Key .. aku benar-benar minta maaf jika selama ini aku telah menyakitimu .. tapi semua itu tak ku sengaja .. aku juga sakit Key .." Dengan sangat hati-hati Raka mulai meraih tangan Keysha, namun dirinya langsung menepis begitu saja.
"Sudahlah. Semuanya sudah terlambat .. dulu aku memang sangat berharap padamu.. tapi tidak sekarang, disaat Inka muncul dalam hari-harimu"
"Tapi Key, itu dulu .. jauh sebelum aku benar-benar sadar akan perasaanku yang sebenarnya, perasaanku yang teramat sangat padamu" Ada sedikit penekanan, ketika Raka berkata hal itu, ia sangat yakin akan perasaannya.
"Kenapa selalu saja ada kata tetapi .. kenapa semuanya tidak bisa menjadi sebuah pernyataan tanpa ada sangkalan"
"Karena memang itulah yang sebenarnya"
"Sudahlah Ka, cukup ... aku tak bisa melangkah lebih jauh lagi .. aku capek Ka, lelah atas perasaanku ini .. dan kuharap kau mengerti" Keysha mulai menggigit bibirnya, menahan air mata yang sebenarnya sudah mengantri ingin keluar dari pelupuk matanya.
"Apa yang harus kulakukan agar kau percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu"
"Tak ada Ka, tak ada .. sudah cukup semuanya .. aku hanya ingin agar kau bisa membahagiakan Inka, dengan begitu akupun akan bahagia"
"Kau serius Key ?"
"Serius Ka .. benar-benar serius .. itu yang ku mau"
Raka terdiam sesaat, mencoba berpikir, menyesali semuanya dan berharap agar bisa berbesar hati menerima keputusan Keysha.
"Apa benar-benar tidak ada kesempatan untukku lagi?" Raka masih tetap berusaha untuk bisa membuat Keysha merubah keputusannya. Keysha terdiam, sebenarnya hatinya bergejolak, namun keputusannya sudah bulat. Baginya dengan melihat Inka berbahagia dengan Raka, itu sudah cukup. Tapi apa benar-benar sudah tidak ada kesempatan lagi untuk Raka.
"Kau percaya takdir Ka? bahwa setiap manusia akan diberikan pasangannya masing-masing. Jodoh dan kematian semua ada ditanganNya. Kalau memang kau adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untukku, pasti kita bisa bersama, tapi tidak untuk saat ini."
Suasana kembali hening. Ada jeda disana, hanya terdengar suara angin yang mulai bertiup kencang.
"Baiklah jika itu yang kau mau, aku tak bisa memaksa .. kalau menurutmu aku sudah tidak bisa or patut memperjuangkan cintaku, aku mengalah .. aku akan mencoba untuk ikhlas .. aku takkan mengganggumu lagi, aku akan mencoba untuk tidak memperdulikanmu, untuk tidak berharap agar kau bisa menjadi milikku .. Aku akan mencoba untuk bisa menerima Inka .. Dan asal kau tahu Key, itu semua kulakukan untukmu, atas permintaanmu .. Kuharap kau senang akan hal itu" Raka sedikit meninggikan suaranya saat berkata hal itu, dan Keysha pun sudah benar-benar tak bisa lagi menahan air matanya, ada sedikit perasaan kecewa ketika mendengarkannya.
"Untuk terakhir kalinya Key, aku ingin tahu perasaanmu padaku, dan kuingin kau benar-benar jujur atas jawabanmu .. bukan untukku, tapi untuk hatimu"
Keysha sedikit kaget ketika kata-kata itu keluar dari mulut Raka, air matanya semakin deras mengalir. Baginya Raka adalah segala-galanya.
"Jujur .. aku akui bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu, kau cinta pertama untukku dan tanpa kau sadari kau telah mengajarkan arti cinta yang sebenarnya padaku .. Tapi, aku tak bisa egois dengan perasaanku, dengan mengorbankan perasaan orang lain .. dan aku sadar sepenuhnya, kalau mencintai seseorang itu bukan berarti memilikinya"
"Terima kasih atas jawaban yang jujur itu. Kau memang tidak mengorbankan perasaan Inka, tapi apa kau sadar .. Kau tetap saja egois dengan mengorbankan perasaanku"
"Karena aku yakin Ka, aku percaya kalau Inka akan benar-benar mencintaimu, benar-benar menyayangimu dan menjagamu .. bahkan mungkin lebih besar dariku .. Jadi, lupakan aku dan kembalilah padanya"

*inspired from "Diantara Kalian" by d'massiv*


1 comment:

Anonymous said...

Jadi "orang ketiga" memang bukan sebuah jalan yang pantas dipilih. Tapi apa daya jika hati berkata sebaliknya. Haruskah menjadi lilin yang mengorbankan nyala dirinya habis untuk orang lain?